Faktor kekalahan PSMS Medan adalah Mental dan Fokus Pemain

Faktor kekalahan PSMS Medan adalah Mental dan Fokus Pemain

PSMS Medan merasakan keangkeran stadion I wayan Dipta saat menjamu Bali United kemarin, 24 Maret, 2018. Pasukan yang dikomandani oleh mantan pelatih Persib Bandung, Djajang Nurjaman tidak mampu membawa pulang poin samasekali, karena mereka ditumbangkan oleh pasukan Serdadu Tridadu dengan skor tipis 1-0.

 

Pada dasarnya, PSMS Medan tampil cukup menjanjikan di awal-awal laga, mereka mampu mengembangkan permainan dan mampu meladeni pemain-pemain Bali United macam, Stefano Lilipaly dan Spasojevic. Bahkan di awal-awal laga mereka mampu menutup segala lini dan membuat para pemain Bali United terlihat tidak mampu berkreasi. Namun akhirnya perlawanan mereka harus kandas setelah pemain naturalisasi Indonesia, Stefano Lilipaly mampu merobek jala gawang mereka.

 

Tentu hasil akhir ini membuat pelatih PSMS Meda, Djanur sangat kecewa, karena anak-anak asuhnya tidak mampu menuntaskan target awalnya untuk membawa pulang satu poin dari kandang Bali United. Akan tetapi, kekelahan itu tidak perlu diratapi terlalu lama oleh sang menejer yang pernah menimba ilmu kepalatihan ke negeri pizza , Italia, karena anak-anak asuhnya mentranformasikan ide permainan yang diusung oleh Djanur dengan sangat baik, hany hasil akhir yang tidak sesuai.

 

Djanur mengatakan “hasil pertandingan hari ini sangat baik untuk Bali United. Namun kami sangat menderita dengan hasil ini. Hasil akhir memang tidak sesuai rencana awal. Akan tetapi permaianan yang kami tunjukkan sudah seperti yang saya inginkan, dan kami mampu untuk memberikan perlawanan pada mereka” tegas pelatih dengan muka sangat masam.

 

Pada pertandingan ini sebenarnya, ke dua tim bermain dengan sangat terbuka. Khusus untuk tim promosi, PSMS Medan, mereka sebenarnya banyak menciptakan peluang, khususnya di babak pertama. Akan tetapi penyelesaian akhir mereka sangat buruk, karena mereka seolah kehilangan fokus saat bermain.

 

Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh pelatih berusia 53 tahun itu bahwa “pada babak pertama, jika kita bermain lebih fokus kita pasti bisa memimpin laga. Hasil itu akan membuat cerita pertandingan yang berbeda, namun sayang kita tidak bisa menciptakan gol di babak pertama. Kemudian di babak ke dua, pelatih Bali United menerapkan taktik yang berbeda dengan babak pertama, dan itulah yang menjadi pembeda”. Tutur pelatih dengan kumis khas itu.

 

Apa yang dikatakan oleh Djajang Nurjaman memang benar, mental dan fokus pemainnya yang masih harus diperbaiki menjadi hal paling vital dibalik hasil negative itu, terutama tiga striker yang bermain di lini depan tim Medan ini, dimana Sadny Unrikob, Frets Listanto dan Wilfried Yessoh mendapatkan beberapa peluang matang yang tidak berhasil mereka konversi menjadi gol karena kurang fokus sehingga semua peluangnya mentah dan merugikan tim.

 

Fokus dan mental para pemain memang bukan hanya milik para pemain depan yang harus diperbaiki, akan tetapi juga para pemain lainnya, termasuk di lini belakang. Jika dilihat secara seksama, PSMS Medan kebobolan karena lemahnya konsentrasi para pemain dalam menutup lubang pergerakan para pemain Bali, seperti saat skema permainan Bali United mampu membuat gol lewat Stefano Lilipaly. Proses terciptanya gol itu bermula dari lengahnya para pemain PSMS Medan dalam menutup pergerakan gelandang Bali United, Nick Vander Velden, sehingga pemain asal Belanda ini mampu memberikan assist akurat kepada gelandang tim nasional Indonesia ini.

 

Djanur menyesali para pemainnya lengah dengan intruksi untuk menutup ruang Velden “skema bermain Bali seperti saat mencetak gol sebenarnya sudah kita pelajari selama di latihan. Saya selalu menekankan untuk memegang Velden dan tidak memberi celah samasekali. Namun mereka membiarkan itu terjadi dari sisi kanan, dan akhirnya kami menderita” tutup Djajang Nurjaman

Leave a Reply